..
Beli Gas Elpiji Di Bumdes Sumber Sari Tebo, Harganya Lebih Dari HET

Beli Gas Elpiji Di Bumdes Sumber Sari Tebo, Harganya Lebih Dari HET

Tebo,Rakyat-Demokrasi.Org Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), yang di bentuk atas inisiasi masyarakat atau pemerintah desa untuk memberdayagunakan segala potensi ekonomi, serta potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Dalam hal ini BUMDES Sumber Sari diduga tidak memihak masyarakat sekitar. Berdasarkan informasi masyarakat, bahwa BUMDES Sumber Sari menjual gas LPG 3 kg melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).

Saat di konfirmasi ketua BUMDES Sumber Sari, Rusmiati di rumahnya, dirinya membenarkan.

"Memang benar kami menjual harga gas subsisi 3 kg melebihi HET yang ada karena kami di sini bisnis untuk meningkatkan pendapatan desa dan kesejahteraan anggota kami" ujarnya. "Saya sebagai ketua BUMDES Sumber Sari bertanggung jawab atas kemajuan PAD desa, dan samping itu, kenapa saya jual melebihi harga eceran karena saya juga memikirkan pendapatan,kalau saya jual sesuai HEAT untuk apa saya jualan kalau rugi" sambungnya.

Kepala Desa Sumber Sari Kecamatan Rimbo Ulu,Kabupaten Tebo, saat di konfirmasi via tlpon dan WA untuk mempertanyakan penjualan gas LPG 3 kg di BUMDES tidak menjawab juga tidak merespon pihak media.

Salah seorang warga Desa Sumber Sari yang tidak mau di sebutkan namanya mengaku resah dan kesal atas harga gas LPG 3 kg yang terlalu tinggi. "Saya ini pedagang makanan dan gorengan pak,secara gas LPG merupakan kebutuhan, kalau beli gas nya tinggi mau di jual berapa dagangan kami"Jelasnya.

Masih narasumber. "Kami masyarakat ngerti apa pak, kami sudah senang BUMDES di desa kami membuka sub pangkalan Gas LPG 3 kg, kami sudah merasa senang dengan harapan bisa membantu perekonomian kami, eh gak taunya harganya sama saja,25 ribu rupiah per tabung."keluhnya.(Edi)


Sebelumnya Jelang Idul Adha, Pemdes Kedaung Barat Tangerang Berikan 15.000 Masker
Selanjutnya Momentum Idul Adha, Jokowi Ajak Seluruh Element Bangkit Hadapi Pandemi